Sabtu, 24 November 2012

Cerita Hujan:



Ibu,hari ini hujan lagi, hujan seperti waktu itu, 20tahun yang lalu kita pernah menyaksikan hujan seperti ini, gemuruh petir seakan berlomba dengan riuh suara air yang menghempas dataran, aku mengingatnya dengan jelas, kita duduk di selasar rumah menanti ayah yang tak kunjung datang sehabis bekerja.

Kita berdua duduk berdekatan seperti tak ingin saling melepaskan, masih ku ingat begitu erat kau mendekap dalam hangat peluk, kau mencium keningku dan berkata “ayah pasti pulang sebentar lagi” dia adalah lelaki yang kau sayangi sedari masih SMA.

Kau bercerita kepadaku tentang masa-masa SMA kalian dulu, berharap hilang khawatirku mungkin, tetapi raut wajah cemasmu tak bisa kau tutupi dari mataku, ya,,kedua mata ini adalah buah dari kasihmu dengannya bu.

Dahulu seorang kawan bertanya kepadamu, siapa orang yang kau sukai disekolah? Kau menunjuk ke arah seorang lelaki yang sedang duduk di bangku pojok kelas dan menatapmu lembut, semalam saat aku bertanya siapa cinta pertamamu kau menunjuk ke arah lelaki yang sedang menikmati kopi dan sebatang rokok di ruang keluarga, sibuk menyaksikan pertandingan sepakbola yang di hidangkan televisi.

Aku tak menyangka kau dan dia telah saling mencinta begitu lama, aku juga berharap cinta itu akan ku dapat dari istriku kelak bu, kita tahu, ayah tak kunjung kembali hari itu, hanya cemas dan was-was yang kita rasakan saat itu, hingga ke esokan hari akhirnya semua terjawab, air matamu tak kunjung henti berderai saat menerima telephone dari rumah sakit.

Bagaimana kabarmu disana bu? Disini aku merasa rindu kepadamu, rindu akan kopi hangat buatanmu, rindu akan nasihat singkat bijakmu, rindu akan senyum dan cerita manismu.

Tali tebal yang memeluk lehermu dengan kasar masih kusimpan, mungkin suatu saat aku akan menggunakannya, atau mungkin akan ku kembalikan kepadamu nantinya disana.

Titip salam untuk ayah, aku menyayangimu bu, selalu.

Rabu, 21 November 2012

Secarik Pohon


Pagi selalu hujan di bulan ini, bulan yang penuh dengan kenangan, bulan yang seharusnya kering tetapi turun hujan. Bulan yang tidak disukainya, bulan November.

Langit tetap tenrsenyum pada siang hari, mendambakan mendung tetapi mentari tersenyum dengan lantang, sepasang anak manusia mengeluh akan senyum mentari. Surti dan Tejo sepasang kekasih yang baru saja menjalin hubungan setelah lama berteman.

Dalam kisah lain tampak seorang bapak yang meraih rezekinya dengan membantu orang-orang melihat ke belakang mobil, mereka terlalu angkuh untuk turun dan melihat sendiri, bapak memberi tanda dengan menggunakan peluit dan isyarat tangan.

Di sebuah cafe tak jauh dari sana seorang pemuda menulis kisah antah berantah tentang kehidupan yang tidak di jalaninya, kehidupan yang hidup di dalam pikirannya, jalan semu yang di pilihnya untuk di ceritakan kepada khalayak ramai, bukan mengenai dia atau mereka, tetapi mengenai angan dan khayalan.

Malam tadi seorang pujangga melantunkan sajak rindu akan kenangan, kita terlalu dini untuk bermimpi, tunggulah sebentar lagi, sampai malam tak berbunyi tulis sang pujangga.
Aku terjaga tiap malam, siapa tahu rindu akan menuntunmu pulang.
Sedianya malam hanya menuntunku untuk menemukan kerinduanmu.

Setiap kerinduan yang di lantunkannya dalam kata mengubah malamnya menjadi semakin kelabu dan pilu, hingga perahu mimpi menjemput agar bergegas bertemu sang kekasih dalam dunianya, dunia mimpi.

Sore Mendung


Tubuhnya masih terkulai lemas di atas kasur, selimut dan guling masih setia memeluknya, bantalpun masih sibuk memangku kepalanya, rambutnya yang tipis dan kering menandakan bahwa dia tak suka memakai minyak rambut ataupun gel rambut.

Matanya setengah sipit, maklum saja dia berdarah campuran, ayahnya keturunan cina entah darimana dia tak ingin mengetahui asal-usulnya, sedangkan ibunya keturunan asli jawa, pare lebih tepatnya, kakeknya dulu seorang bangsawan di daerah asalnya, tetapi karena perebutan harta warisan kakeknya memilih merubah namanya dan pindah ke kota kecil ini. Ya,kota kecil ini telah memberikan banyak kenangan serta pengalaman kepada tubuh kurus dan kecil itu, pelajaran akan hidup serta kasih sayang yang sulit untuk di lupakan.

Sore itu masih mendung, sedari pagi dia tak beranjak dari kamar kesayangannya, kamar yang lusuh dan kotor layaknya kapal sehabis di terjang badai kata orang-orang, tetapi kamar itu tempat paling nyaman yang dirasakan olehnya. Berbagai cerita dan pohon pernah terjadi disana, kamar itu telah di tempatinya sedari dia masih menginjak bangku smp hingga sekarang menjadi mahasiswa tingkat akhir, wajar saja jika kamar itu menjadi tempat yang akan dia rindukan kelak ketika telah berumah-tangga.

Kesepian adalah teman yang dia rasakan di sore itu, rindu akan ombak pantai membuatnya mulai bangun dari kasurnya, sambil membayangkan apa kira-kira yang akan di suguhkan oleh pantai jika dia pergi kesana.
Tenggorokannya mulai terasa kering, di teguknya segelas teh hangat sisa pagi tadi, walaupun telah tak hangat lagi tetap saja saat di buat itu bernama teh hangat, nalurinya untuk merokok tak pernah dapat di bendung oleh bibirnya yang mulai berubah semakin hitam akibat nikotin yang terdapat dalam kandungan rokok.

Hisapan pertama dia masih belum mendapatkan kenikmatannya, hisapan kedua membuatnya berhenti sejenak dan kemudian menikmati hisapan-hisapan selanjutnya.

Kembali membuka kenangan akan pohon-pohon cerita yang pernah di rangkainya bersama gadis-gadis hebat yang pernah dia temui dan mengisi hari-hari bersama. Banyak di antaranya yang telah menikah, maklum saja umur mereka telah menginjak kepala dua dan menurutnya itu adalah usia yang layak untuk membina rumah tangga.

Senyum kecil mulai melebar menjadi tawa sederhana dari bibirnya ketika mengingat gadis-gadis tersebut, ada beberapa yang telah lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan, sedangkan dia masih saja sibuk mengutak-ngatik laptop di kamar, hidup menurutnya adalah tentang keinginan kita, tujuan kita kelak haruslah berdasarkan pilihan kita dan bukan karna paksaan, karena dengan begitu maka kita akan menjalaninya tanpa beban.

Beberapa kisah yang pernah dia lihat dan dengar dari beberapa teman adalah betapa kesabaran sangat di uji dalam keluarga keturunan timur tengah, para gadis sangat di jaga (itu menurut mereka) tetapi yang kita lihat sebagai masyarakat adalah mereka seperti burung dalam sangkar.

Jujur saya sendiri sangat salut kepada gadis-gadis timur tengah, karena kesabaran yang begitu ikhlas kepada orangtua.

Kembali membuka halaman berikutnya pada pohon cerita dia, sebut saja Tejo kembali tersenyum mengingat ada beberapa mantan yang pernah menyakiti dan menghianati kesetiaannya, alangkah begitu hebat gadis-gadis tersebut dalam menyembunyikan kenyataan, kira-kira siapa yang akan mereka khianati berikutnya? Aah biarkan itu menjadi rahasia mereka saja.

Di lihatnya telephone genggam yang belum sampai setahun dia gunakan, di perhatikan beberapa kontak yang ada disana, tejo suka memperhatikan kebiasaan  orang-orang, cita-citanya yang sebenarnya adalah menjadi psikolog tetapi dia sendiri terdampar di fakultas hukum hingga kini, berencana melanjutkan s2 dengan mengambil jurusan psikologi sepertinya harus menunggu beberapa tahun lagi.

Sore itu banyak orang berdoa agar tidak turun hujan, ada juga yang rindu akan hujan,  berbagai macam pemikiran menjadi satu di sore kelabu itu.  Sedangkan tejo asik mengenang para gadis, hatinya saat itu tidak memiliki kasih, sedatar jalan raya, saat dia sakit dan terkulai lemah di kamar tak ada siapapun yang memperhatikannya, rindu akan kasih sayang mungkin lebih tepatnya.

Sejenak dia berpikir “apa yang salah pada diriku? Apakah aku pernah kurang menyayangi mereka? Atau aku pernah menganggap mereka tak ada? Aah setahuku aku selalu memperhatikan tiap kekasih yang bersamaku, aku selalu menyayangi mereka meski dalam diam, aku selalu mengingat nama mereka dalam kerahasian”

Di sinilah tejo mulai sadar bahwa sesungguhnya gadis yang paling setia adalah gadis yang akan mendampinginya kelak, seorang istri yang sabar dan penurut menjadi dambaannya, tidak harus ibu rumah tangga, wanita karier pun tak apa asalkan dia bisa menjaga hatinya dan tetap setia. 

Sepertinya itu bukan hanya dambaan dia saja, melainkan dambaan setiap lelaki, termasuk saya (tejo)

Selasa, 20 November 2012

Cerita Pagi



Pagi itu sama seperti pagi-pagi yang lainnya, dia mulai dengan ucapan tidak jelas yang keluar dari bibir perokoknya, entah sudah berapa gelas minuman yang dia teguk semalam untuk membantu dirinya agar tertidur lebih cepat. 

Namanya tejo, dia mahasiswa fakultas hukum sebuah universitas negeri yang terlambat wisuda, masalahnya hanya satu, tidak ingin “dewasa” .

Tejo menganggap menjadi pribadi dewasa adalah sebuah bunuh diri, membunuh kesenangan, membunuh harapan, membunuh perasaan, bahkan membunuh waktu .

Di ambilnya sebatang rokok dari bungkus marlboro merah yang tergeletak di lantai kamarnya, sambil membakar rokoknya dia menengok keluar jendela dan melihat cuaca di pagi itu, kembali dia bergumam dengan dirinya sendiri, terjadi perdebatan dalam pikirannya, hari yang di harapkan cerah ternyata mendung kelabu.

Sejenak kemudian dia terdiam, matanya tertuju kepada layar hp yang semalaman tidak di sentuhnya, walpapernya masih sama seperti bulan lalu, foto mantan kekasih yang meninggalkannya karena alasan yang tidak jelas.

Diraihnya alat komunikasi modern itu dalam sunyi, sinar matahari tidak berkunjung ke dalam kamarnya, mentari seperti enggan menyapanya di pagi itu.

Kenangan mulai tumbuh di kepalanya, akar-akar masa lalu mulai menggrogoti tubuh kurusnya, gadis itu bernama Surti. Surti adalah gadis keturunan tionghoa yang pernah mengisi hatinya dahulu.
Berawal dari pertemanan yang terjalin biasa saja, Tejo dan Surti tanpa sadar menyimpan rasa dalam diri masing-masing,  tetapi pribadi Tejo yang keras serta kebiasaan Surti yang sering di manja dalam lingkungan keluarga membuat mereka sering bertengkar.

Tejo yang selalu tersenyum di saat membaca kata-kata amarah penuh emosi dari Surti selalu menanggapi itu sebagai bagian dari kisah mereka, sampai suatu saat Surti mulai jenuh dengan semua kisah yang mereka jalani, dan di saat itulah dunia Tejo mulai terasa datar kembali.

Mulai dia membuka album foto yang terdapat di hp, di perhatikan kembali dengan seksama tiap foto Surti yang terdapat dalam album hp, sedikit keraguan untuk menekan tombol delete yang terdapat pada ujung keypad hp, kembali terjadi perdebatan sesaat dalam kepalanya, dan akhirnya jemari yang beraroma rokok itupun menghapus tiap kenangan yang ada dalam alat elektronik tersebut.

Tejo ingin berubah, di pagi itu dia tersadar bahwa semua yang dia lakukan sia-sia, surti tidak akan pernah kembali, Surti telah pergi meninggalkannya, Surti telah hilang dalam dekapnya, kenangan hanya akan menumbuhkan Surti-surti yang lain dalam kehidupannya.

November menjadi bulan yang paling dia benci, november menjadi pohon tua kering yang selalu ingin dia tumbangkan, dalam halaman kecil hatinya kini dia mulai mencari pohon lain untuk ditanami, mungkin esok,lusa, atau kapanpun itu, dia berharap pohon itu tidak seperti pohon Surti.

Akhirnya dia beranjak keluar kamar dan membuat secangkir kopi hangat, beserta rokok yang masih tersisa di tangannya dia kembali masuk ke kamarnya yang masih enggan di sinari oleh mentari, dinyalakannya laptop yang selalu setia menunggunya untuk di jamah.

Tejo mulai menulis kembali, mulai menulis cerita tentang Soma !

Selasa, 22 November 2011

The Romanov Family

hey,, gue baru saja selesai membaca beberapa artikel tentang keluarga Romanov pada zaman rusia dahulu, keluarga ini benar-benar di bantai habis-habisan.
coba anda bayangkan jika satu keluarga bahagia anda sekarang ditembak mati semuanya :x
jaoq-jaoq langan daah.
ingin bercerita sedikit tentang kisah keluarga romanov di blog gue ini, ada yang keberatan ?
heyy,, silahkan klik tanda X berwana merah di atas jika anda keberatan :DD


Keluarga Romanov memerintah Rusia dengan hak ilahi selama tiga abad. Judul resmi Tsar lalu adalah Nicholas II, Kaisar dan otokrat dari Semua Rusia. Kekhawatiran tentang kesiapan untuk memerintah itu terbukti benar. Dia adalah seorang penguasa yang tidak kompeten dan lemah, tergantung pada istrinya, Alexandra yang berada di bawah pengaruh seorang biarawan jahat, Rasputin. Pada saat yang sama, rezim Nicholas, dengan pengetahuan atau setidaknya dalam nama-Nya, membawa pada penindasan kejam dari kelas pekerja, petani dan rakyat biasa. Perang Dunia Pertama juga menyebabkan keruntuhan ekonomi dan pergolakan sosial di Rusia, yang dinyalakan dua revolusi pada tahun 1917. Revolusi pertama mengakibatkan pelepasan Tsar. Keluarga itu pindah ke Ekaterinburg di Pegunungan Ural setelah perang sipil pecah.
Pada bulan Juli 1918, pasukan royalis tampaknya mendekati keluarga dan para penculik yang bersangkutan. Catatan yang disahkan oleh kaum royalis ke Romanov melalui suster dari Biara Novo-Tikviniski. Mereka diizinkan oleh penjaga atas rekomendasi dari dokter pribadi Tsar, Evgeny Botkin, untuk memberikan pasokan telur, susu dan krim setiap pagi. Dokter telah setia mengikuti Tsar untuk pengasingan untuk merawatnya. Pesan rahasia yang diterima oleh Romanov mendorong mereka untuk siap untuk melarikan diri melalui jendela setelah mendapatkan sinyal yang tepat dari luar. Keluarga kerajaan, yang memiliki seorang putra cacat, adalah ambivalen dan prihatin tentang kelayakan seperti upaya dan keberhasilan. Ia kemudian terungkap bahwa beberapa catatan yang dikirim oleh penjaga sendiri untuk menjebak para tahanan dan mencari tahu tentang apapun plot untuk melarikan diri.
Pada akhirnya, Daerah Ural Soviet menjadi gugup dan mengeksekusi mereka di ruang bawah tanah Ipatiev House pada July16/17, 1918 dan buru-buru dibuang tubuh mereka di Hutan Koptyaki dekatnya. Namun, dalam gilirannya aneh sejarah, Rusia telah secara bertahap menghidupkan kembali warisan Nicholas II setelah pecahnya Uni Soviet pada tahun 1991. Dia saat ini dianggap oleh Gereja Ortodoks Rusia sebagai Saint Nicolas dan sebuah gereja yang disebut The Church on the Blood dibangun di Ekaterinburg pada tahun 2003 di situs mana keluarga kerajaan ditembak. Banyak orang Rusia pergi ke sana untuk berdoa dan menunjukkan pengabdian mereka dan loyalitas kepada keluarga. Di sisi lain, Stalin dan mumi Lenin, yang dipajang di kotak kaca selama beberapa dekade di Red Square dengan 24 penjaga jam kehormatan, yang saya telah melihat diriku di Lapangan Merah selama kunjungan Moskow saya di 1956, telah memalukan dihapus dan dikuburkan di tempat lain .
Pada tanggal 16 Juli, 1918 Nicholas II, istrinya, empat anak perempuan dan satu anak laki-laki bangun di pagi hari di Gedung Ipatiev, tempat mereka dikurung di tangan para penculik Bolshevik. Mereka terkejut melihat satu set baru penjaga di lorong yang tampaknya agak mengganggu pada privasi mereka. Ini agak tidak biasa bahkan dalam kondisi tertekan mereka dalam tetapi sedikit yang mereka ketahui bahwa pengaturan baru sebenarnya persiapan untuk tindakan-penghapusan akhir dari Romanov. Larut malam, Yurovsky, penjaga baru komandan, meminta keluarga untuk bangun dan bersiap-siap untuk pindah ke tempat lain. Mereka dibawa ke gudang bawah tanah dengan satu lampu, bersama dengan dokter Tsar dan beberapa staf pribadi dan masak-total sebelas orang
keluarga Romanov .
Mereka berbaris erat dalam baris dinding seolah-olah foto kelompok akan diambil. Tiba-tiba pintu terbuka dan Yurovsky dengan rekan-rekannya memasuki ruangan bersenjata lengkap. Komandan merah
kemudian mengeluarkan pernyataan yang mengatakan "mengingat fakta bahwa keluarga Anda di Eropa melanjutkan serangan mereka di Soviet Rusia, Presidium Soviet Daerah Ural telah menghukum Anda untuk ditembak ... '. Dalam pernyataan Tsar tersebut juga dituduh 'bersalah yang tak terhitung jumlahnya kejahatan berdarah terhadap rakyat'. Tidak ada disebutkan tentang anggota keluarga dan staf. Keluarga kerajaan terkejut tapi segera Yurovsky ditembak Tsar di dadanya dari jarak dekat dengan pistol Mauser nya. Tsar jatuh dan runtuh. Kemudian semua penjaga mulai menembaki sisa tahanan dan ketika mereka jatuh di tanah, menikam mereka yang masih hidup dengan bayonet sampai mereka mati. Semua ini butuh waktu sedikit sebagai 70 peluru yang ditembakkan memantul dari batu berharga bahwa Romanov telah dijahit di pakaian mereka. Ruang kecil menjadi penuh asap dan bau bubuk senjata, darah manusia.
Mayat-mayat itu kemudian dibawa dalam truk ke Hutan Koptyaki untuk ditinggalkan
disebuah tambang dan dimakamkan di sana di kuburan dangkal di jam-jam yang sangat awal pada Juli 17. Konsul Inggris, Thomas Preston, tinggal di dekat tempat pembunuhan itu mendapat berita tentang pembunuhan dan pergi ke kantor telegram di pagi hari untuk menginformasikan pemerintah di London. Pesannya membaca, 'The Tsar Nicholas II ditembak semalam. " Seorang pria di baris menyambar kertas itu dari tangannya dan menulis ulang, "Para algojo Tsar Nicholas II ditembak hari ini- nasib yang pantas. ' Para diplomat Inggris dengan enggan menyetujui perubahan untuk membiarkan telegram pergi.
Catatan resmi dan proses Pusat Partai Komunis pertemuan di Moskow tidak memiliki jejak subjek pelaksanaan Romanov sedang dibahas secara formal dan tidak ada menyebutkan yang memberikan keputusan akhir untuk membunuh seluruh keluarga kerajaan. Lenin diyakini telah memberikan penjelasan tentang perkembangan di Ekaterinburg tapi rupanya meninggalkan nasib para bangsawan untuk diputuskan secara lokal oleh kaum Bolshevik Ural yang memegang Tsar dan keluarganya. Pada malam July18, Lenin memimpin pertemuan Komisar Rakyat di Kremlin saat Sverdlov, salah satu komisaris, membisikkan sesuatu di telinganya. Dia kemudian diizinkan untuk membuat pengumuman mengenai eksekusi Nicholas. keputusan telah diambil dan resolusi berlalu menyetujui tindakan tegas dari Soviet Daerah Ural. Sebuah pengumuman pers muncul dalam edisi Moskow-Izvestiya hari berikutnya.
Respon Barat untuk berita pendiam dan sering kritis-koran terlalu sibuk melaporkan berita tentang Perang Dunia I. The Daily Mail mengatakan: Nicholas adalah seorang Tsar kecil yang malang dengan kehidupan dan kematian menyedihkan. Para Grafis mingguan mencatat bahwa Nicholas sudah mengalami 'nasib yang ia pesan untuk banyak rakyatnya dan yang melakukan selama perang telah menemukannya' benar-benar ingin kualitas kenegarawanan. "
Pada malam saat keluarga dieksekusi, Alexei masih hidup ketika para prajurit berhenti menembak. karena saat itu ia Alexei dirawat karna penyakit Hemophilicnya
Hal ini diyakini karena pemimpin tentara sendiri yang menembak Alexei dua kali jarak dekat. Dia berusia 13 tahun ketika ia meninggal.

sungguh mengerikan jika membayangkan hal itu terjadi pada keluarga kita. dan peristiwa tersebut didasarkan akibat pengaruh kekuasaan.

Sabtu, 08 Oktober 2011

sajak 1

Cahaya bulan mulai masuk dalam lembah hati,
hutan jiwa yang telah lama mati,
jantung akar mulai tumbuh bersamaan dengan segar tubuh-

Aku mencari hati yang berdebar,
kunjungan dari harapan yang baru,
bisikan angin yang penuh kelembutan-

Aku tak ingin menjadi abu yang tak sempat mengucap kata cinta kepada api,
aku ingin menjadi embun yang selalu menyapamu, sang bunga di pagi hari-

Aku ingin menjadi diam dalam bunga, yang hanya memberikan keindahan
tanpa harus berkata ataupun menyerukan-

Dalam gelap malam ku meneriakkan namamu,
dalam diam ku mengingat dirimu,
dalam setiap kesempatan ku ingin bertemu denganmu-

Beberapa sajak di atas gue buat berdasarkan pemikiran sederhana dalam cinta yang sederhana dalam Pohon cerita. 

Senin, 03 Oktober 2011

sade

wasssaab yoo!! hari minggu kemaren gue pergi ke Desa Sade untuk meneliti beberapa kebiasaan masyarakat desa di dessa tersebut, gak banyak iih yang bisa gue ceritain karna gue juga ebenarnya maih agak kurang ngerti dengan bahaa sasak, sedangkan penduduk desa tersebut dominan menggunakan bahasa sasak dalam kehidupan sehari-harinya,kelompok gue terdiri dari 5 orang anggota, 3 cewek dan  cowok termasuk gue,
keistimewaan dari desa tersebut adalah desa sade adalah satu-satunya desa yang masih menjaga kelestarian tradisi adat secara turun temurun penduduk asli pulau ini, yaitu sasak yang telah mendiami pulau ini selama beberapa generasi.
buat orang aam kayak gue yang maih agak edikit jkurang paham tentang adat suku sasak mungkin akan sedikit bertanya-tanya tentang beberapa kebiasaan masyarakat suku sasak yang sedikit berbeda dengan suku lain di indonesia, contohnya adalah tradisi menikah di sini, masyarakat sasak mempunyai tradisi jika akan menikah mempelai wanita harus dibawa lari terlebih dahulu oleh mempelai pria yang akan menikahinya selama beberapa hari, baru setelah itu mempelai pria datang kerumah orang tua mempelai anita untuk meminta izin menikahi anaknya, tetapi yang uniknya selama gadis yang akan dinikahinya dibawa lari, sang pria dilarang untuk bertemu dengan gadisnya tersebut sampai dengan sang waktu pernikahan.
cukup aneh bukan? jika kita membawa lari anak gadis orang dalam keadaan normal yang dalam artian masyarakat perkotaan mungkin kita akan dilaporkan kepada polisi karna itu telah masuk dalam perbuatan kriminal, tetapi berbeda dengan tradisi disini, hal itu sudah biasa bagi masyarakat Lombok.
ini foto gue bareng kelompok gue dan inaq yg kami wawancarai beserta dengan anaknya :)


cukup memberikan dampak juga suasana desa sade,,walaupun desanya kecil tapi masyarakat desa sangat menjaga kebersihannya.
bisa di liat dari kondisi desa dari foto" berikut ini















gimana? cukup tertata rapi bukan desa ini ? bagus banget kayaknya klo dijadiin lokasi syuting :D

after that village gue dan kelompok gue beserta rombongan yang lain cuusss menuju tanjung aan. salah satu pantai yang bertempat di kuta.
tertarik ? jika ingin melihat dan berminat berkunjung silahkan datang ke Lombok :)